copas tugas lipmen :P
Dilahirkan di lingkungan pedesaan mungkin menyebalkan bagi beberapa orang. Tapi bagi saya pribadi itu hal yang sangat menyenangkan. Tak pernah terbersitpun rasa menyesal karena tinggal di desa. Walaupun dengan segala ketidakpraktisannya saya cukup menikmatinya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya dan teman-teman sepermainan menjelajah seluruh sawah-sawah yang ada di desa. Walaupun medannya sulit bagi anak seusia kami, toh kami tak pernah kapok juga. Seringkali jatuh terperosok ke lumpur, tak sengaja tercebur ke sungai, serta dimarahi para petani karena merusak tanaman di sawahnya. Hal yang paling saya ingat adalah pernah suatu ketika sepulang sekolah saya dan teman-teman langsung bermain di sawah. Mandi di dam yang ada di sekitar situ cukup lama. Alhasil sepulang dari sana saya demam dan dimarahi habis-habisan oleh orang tua. Cukup membuat kapok. Tapi jika diingat sekarang masa kecil itu begitu menyenangkan. Bisa tertawa-tawa dan bermain sepuas hati tanpa ada beban pikiran sedikitpun.
Ketika beranjak dewasa, satu demi satu masalah yang hadir membuat pikiran saya semakin kompleks. Mulai mengerti bahwa dunia itu tidak sesederhana yang ada di televisi ataupun film. Mungkin juga karena karakter dasar saya yang keras, saya jadi cenderung skeptis dalam memandang segala persoalan. Beberapa orang termasuk keluarga menilai saya aneh dan keras kepala. Saya tidak memungkiri hal itu. Mungkin juga karena saya tidak mudah percaya pada seseorang atau sesuatu. Tapi bagi orang yang tidak terlalu mengenal saya, mungkin akan berpikiran negative tentang saya.
Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah thread di forum tentang seseorang yang bisa membaca karakter seseorang lewat wajah. Saya jadi penasaran karena ini merupakan hal yang baru bagi saya. Biasanya orang melakukan tes karakter lewat garis tangan ataupun tes psikologi. Dan baru kali ini ada yang melakukan tes karakter lewat wajah. Bagi saya ini unik, karena setiap wajah di dunia ini kan berbeda-beda. Bagaimana ia melakukannya.
Dan lagi saya menyadari mengenal karakter diri sendiri sangat penting. Sebagai orang yang mempelajari ilmu komunikasi, saya juga sadar bahwa prinsip-prinsip teori komunikasi antar pribadi akan dapat diterapkan dengan baik jika kita mengenal diri kita sendiri dengan baik. Mengenal karakter diri bukanlah sesuatu yang mudah memang, karena biasanya kita tidak melihat ataupun menyadari hal-hal buruk yang biasa kita lakukan. Salah satu metode mengenal diri adalah dengan melakukan self disclosure atau pembukaan diri. Tetapi metode ini memerlukan orang lain sebagai peran yang membantu mengenalkan diri kita terhadap kita sendiri, dan diri kita terhadap orang lain itu. Bagi saya pribadi hal ini tidak terlalu efektif jika rekan self disclosure tidak bersikap jujur dan apa adanya.
Oleh karena itu saya tertarik dengan metode tes karakter wajah. Walaupun pada akhirnya saya tidak terlalu berharap hasilnya akan benar-benar sama dengan karakter saya. Jadilah, saya mengirim foto saya kepada orang yang melakukan tes karakter tersebut via internet. Dan dalam kurun waktu yang cukup singkat, orang tersebut memberikan hasil ‘telaah’nya terhadap ‘wajah’ saya.
Berikut ini hasilnya :
1. Cenderung keras kepala dengan caranya sendiri
2. Kalau tidak bersedia, susah dipaksa
3. Cenderung imajinatif
4. Tidak terlalu moody,tapi gampang kesal
5. Cenderung tidak terlalu banyak membuka diri
6. Kadang terlalu banyak berpikir sebelum mengambil keputusan
7. Cenderung gampang putus asa atau frustasi
8. Lebih suka kegiatan yng monoton (seperti membaca, nonton, dan lain lain) daripada kegiatan outdoor
9. Suka bingung tidak jelas sendiri
10. Cenderung pemalu
11. Rapi,teliti
12. Lebih banyak pasrah,walaupun sebenarnya pusing memikirkannya juga.
Saya cukup terkejut dengan hasil karakterisasi tersebut. Saya sadar bahwa kebanyakan poin memang cukup mewakili pribadi saya. Saya menanyakan pada teman-teman saya pun mereka meng-iyakan jika karakter saya memang seperti yang digambarkan ‘peramal’ wajah tersebut.
Disbanding dengan kebanyakan orang, saya memang cenderung imajinatif. Hal ini mungkin dikarenakan sejak kecil saya sangat menyukai fiksi. Entah itu dari hasil bacaan ataupun film. Ketika kecil, untuk hadiah kenaikan ataupun hadiah peringkat yang saya dapat di sekolah orang tua saya selalu membelikan saya bacaan fiksi. Berbagai cerita dari berbagai genre saya lahap. Mulai dari legenda, sampai fiksi ilmiah populer. Inilah yang menjadikan saya berpikir sesuatu terlalu berlebihan (menurut teman-teman saya) dan tidak down to earth. Ada kalanya saya memang menganggap tokoh yang ada di fiksi itu sesungguhnya ada di dunia nyata. Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwa fiksi tetaplah fiksi.
Menurut tes karakter tersebut, saya introvert. Yah, saya akui saya memang introvert. Saya tidak terlalu suka membuka diri kepada orang banyak. Terutama orang yang belum saya kenal. Saya hanya membuka diri kepada orang yang saya merasa nyaman dengannya. Bahkan dengan keluarga sayapun saya tidak terlalu sering membuka diri. Tetapi mungkin karena saya sudah lama hidup dengan mereka, mereka sangat mengenal karakter saya dengan baik. Tidak terlalu kaget dengan mood saya yang naik turun. Keluarga memang orang-orang yang terdekat bagi masing-masing individu.
Salah satu sifat terburuk saya menurut hasil karakterisasi tersebut adalah saya cenderung mudah frustasi dan putus asa. Yah pada dasarnya saya memang tipe orang yang demikian. Jika ada masalah yang bertumpuk-tumpuk akan bisa sangat tertekan. Saya cukup persisten, dengan tidak bisa mengerjakan sesuatu sebelum menyelesaikan yang lainnya. Tetapi ada kalanya hal ini akan sangat merugikan, bila musim banyak tugas misalnya. Apalagi jika terus tidak mampu berada di bawah tekanan saya tidak akan bisa menjadi wartawan seperti yang saya cita-citakan. Wartawan memang profesi yang harus siap mental dan kondisi di segala situasi. Karena itu saya masih berusaha bagaimana mengurangi sifat buruk saya yang satu ini.
Saya meyakini, pada dasarnya setiap orang diciptakan dengan karakternya masing-masing. Dan setiap individu adalah unik. Hal ini saya pahami ketika berbaur dengan teman-teman saya di kampus. Dengan karakter yang begitu kontras dan berbeda satu sama lain toh nyatanya kami bisa saling mengerti dan melewati banyak hal bersama-sama. Setiap individu diciptakan dengan karakternya masing-masing dan mempunyai peran sebagai protagonist dalam hidupnya. Sampai sekarang pun tujuan utama saya adalah mencari arti hidup. Kenapa saya dilahirkan dan apa yang bisa saya lakukan di dunia ini merupakan pertanyaan terbesar yang akan selalu saya cari jawabannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
boleh tau alamat web na?
web apa vis?
Posting Komentar